Selasa, 04 November 2014
Rabu, 14 Mei 2014
Syukur Itu Tidak Terlambat... Harusnya
Sebentar... ini yang part yang cukup menjengkelkan. Pas mau nulis, mesti banget nggak ada bayangan mau nulis apa. Giliran di WC, sampe judul artikel pun tercetuskan. Menurut, loh? Boker kudu selalu siap bawa-bawa alat tulis getoh? Ngenesss...
Tapi woteper lah, saya tetep mau nulis (lagi). *Sambil ngelus-ngelus blog nan buruk rupa yang sekian lama terbengkalai.
Begini...
Kamu pernah enggak, saking menyatunya sama sesuatu hal, kamu jadi nggak bisa ngerasain kalau hal yang deket sama kamu itu merupakan suatu hal yang emejing cetar membahana? Yang kamu rasain cuma "Apaan sih? Biasa aja kok." Padahal orang-orang di sekitar kamu ngiler-ngiler mendambakan posisi kaya kamu. Dan setelah kamu sadar, kamu bikin status kaya gini...
Ini
yang kadang kita lupa (atau mungkin cuma saya --'). Lupa bersyukur
karena kita lahir dan besar di tempat yang kata orang-orang "Epic
abis!". Iya, bersyukur...
Mau muncak gunung-gunungnya, tinggal ngangkat kaki.
Mau tidur, gak perlu homestay-homestay-an.
Mau nikmati wisatanya, tinggal "nyong wong Dieng, Pakkk!" tiket gratis.
Mau makan karika, tinggal metik.
See! betapa syahdunyaaa. Orang-orang di luar sana aja ngiri sama kita *hooh pa?
*Tiba-tiba nyong merenung tentang iki.
Udah gitu, itu status pake nandain orang sak-RT pula. Semacam modus mencari teman yang mungkin sama 'lupa'nya kaya saya.
Dan kenapa semua ini bisa terjadi?
Suer, (saya miris mau nulisnya)... ini karena efek novel 5 cm. (--') *SOUNDS ALAY BANGET GAK SIH SAYAAAAAH???
Novel yang sukses bikin saya nangis sambil ketawa. Novel yang sukses bikin saya yang emang dasarnya pemimpi menjadi semakin gudrah-gudrah mimpinya (sambil ngangkat-ngangkat jari 5 cm di depan kening). Novel yang dengan syahdunya mengantarkan jari saya ngulik-ngulik pesbuk dan nemu grup 'Sahabat 5 cm.', di mana saya ketemu sama orang-orang kece di sana. Novel yang entah kenapa... ah sudahlah. Terlalu banyak kata 'sukses' malah bikin saya semakin lapar... Iya di kecamatan saya ada warung makan enakkkk, judul warungnya, "SUKSES". *penting
Lalu kenapa saya nggak sebut filmya? Nggak kenapa-kenapa sih...
Setelah tragedi itulah, saya jadi iksaitid (piye sih nulis inggrise?) bingits sama hal-hal yang berbau gunung. Bukan gunung yang itu tapiiiiii *tampar manusia-manusia berwajah mesum.
Mulai dari searching cerita-cerita yang gunung abissss, ikut grup-grup para pendaki, donlod-donlod video perjalanan mendaki gunung, terus ikut bisnis jualan aksesoris... nyambung kah? nyambung lah, pan bisnisnya bisa dapet duit terus duitnya bisa ditabung terus tabungannya kalau udah banyak bisa buat ongkos ngedaki gunung... Sekali lagi bukan gunung yang ituuuuuuuuuuuuuu *tamparrrr lagi. Gunung yang itu mah cuma bisa didaki dengan 'Qobiltu Nikahaha...' *eh
Dan yang sungguh mengiris hati adalah... you know what?!
Saya ini orang gunung. Orang gunung asli, men! ASLI!
Tapi saya lupa kalau saya orang gunung. Saya lupa cara menikmati keromantisan alam gunung. Saya lupa kalau saya emang pelupa. Ya pikir aja sih, sejak jebrol saya udah di gunung. SD lari-larian aja di gunung. Makan bakso di gunung. Nonton tivi di gunung. Naik motor mbonceng Pae, di gunung. Tidur di gunung. Semuanyaaaaaa di gunung. Wajar toh kalau saya kebas sama hal-hal berbau gunung.
Kayaknya pikiran saya terlalu cetek kalau cuma bisa beranggapan begitu ya...
Apa emang pikiran saya cetek? entahlah..
Yang pasti saat ini adalah. Saya lupa bersyukur bahwa saya dilahirkan di tempat yang epic sekali. Suer epic! kalau nggak percaya search aja di gugel 'Dieng' pasti keluar apapun tentang keindahannya. *sengaja nggak ngasih link atau gambar-gambar epic biar yang mau tau Dieng itu kaya apa nge-search sendiri (baca: males). Mandiri donggg...
Lalu mulai saat ini... saya akan mencoba menikmati Dieng dengan semestinya.
#Syukur #Alam #Dieng
_From Napis With Peace.
Mau muncak gunung-gunungnya, tinggal ngangkat kaki.
Mau tidur, gak perlu homestay-homestay-an.
Mau nikmati wisatanya, tinggal "nyong wong Dieng, Pakkk!" tiket gratis.
Mau makan karika, tinggal metik.
See! betapa syahdunyaaa. Orang-orang di luar sana aja ngiri sama kita *hooh pa?
*Tiba-tiba nyong merenung tentang iki.
Udah gitu, itu status pake nandain orang sak-RT pula. Semacam modus mencari teman yang mungkin sama 'lupa'nya kaya saya.
Dan kenapa semua ini bisa terjadi?
Suer, (saya miris mau nulisnya)... ini karena efek novel 5 cm. (--') *SOUNDS ALAY BANGET GAK SIH SAYAAAAAH???
Novel yang sukses bikin saya nangis sambil ketawa. Novel yang sukses bikin saya yang emang dasarnya pemimpi menjadi semakin gudrah-gudrah mimpinya (sambil ngangkat-ngangkat jari 5 cm di depan kening). Novel yang dengan syahdunya mengantarkan jari saya ngulik-ngulik pesbuk dan nemu grup 'Sahabat 5 cm.', di mana saya ketemu sama orang-orang kece di sana. Novel yang entah kenapa... ah sudahlah. Terlalu banyak kata 'sukses' malah bikin saya semakin lapar... Iya di kecamatan saya ada warung makan enakkkk, judul warungnya, "SUKSES". *penting
Lalu kenapa saya nggak sebut filmya? Nggak kenapa-kenapa sih...
Setelah tragedi itulah, saya jadi iksaitid (piye sih nulis inggrise?) bingits sama hal-hal yang berbau gunung. Bukan gunung yang itu tapiiiiii *tampar manusia-manusia berwajah mesum.
Mulai dari searching cerita-cerita yang gunung abissss, ikut grup-grup para pendaki, donlod-donlod video perjalanan mendaki gunung, terus ikut bisnis jualan aksesoris... nyambung kah? nyambung lah, pan bisnisnya bisa dapet duit terus duitnya bisa ditabung terus tabungannya kalau udah banyak bisa buat ongkos ngedaki gunung... Sekali lagi bukan gunung yang ituuuuuuuuuuuuuu *tamparrrr lagi. Gunung yang itu mah cuma bisa didaki dengan 'Qobiltu Nikahaha...' *eh
Dan yang sungguh mengiris hati adalah... you know what?!
Saya ini orang gunung. Orang gunung asli, men! ASLI!
Tapi saya lupa kalau saya orang gunung. Saya lupa cara menikmati keromantisan alam gunung. Saya lupa kalau saya emang pelupa. Ya pikir aja sih, sejak jebrol saya udah di gunung. SD lari-larian aja di gunung. Makan bakso di gunung. Nonton tivi di gunung. Naik motor mbonceng Pae, di gunung. Tidur di gunung. Semuanyaaaaaa di gunung. Wajar toh kalau saya kebas sama hal-hal berbau gunung.
Kayaknya pikiran saya terlalu cetek kalau cuma bisa beranggapan begitu ya...
Apa emang pikiran saya cetek? entahlah..
Yang pasti saat ini adalah. Saya lupa bersyukur bahwa saya dilahirkan di tempat yang epic sekali. Suer epic! kalau nggak percaya search aja di gugel 'Dieng' pasti keluar apapun tentang keindahannya. *sengaja nggak ngasih link atau gambar-gambar epic biar yang mau tau Dieng itu kaya apa nge-search sendiri (baca: males). Mandiri donggg...
Lalu mulai saat ini... saya akan mencoba menikmati Dieng dengan semestinya.
#Syukur #Alam #Dieng
_From Napis With Peace.
Langganan:
Postingan (Atom)