Rabu, 14 Mei 2014

Syukur Itu Tidak Terlambat... Harusnya



Sebentar... ini yang part yang cukup menjengkelkan. Pas mau nulis, mesti banget nggak ada bayangan mau nulis apa. Giliran di WC, sampe judul artikel pun tercetuskan. Menurut, loh? Boker kudu selalu siap bawa-bawa alat tulis getoh? Ngenesss...

Tapi woteper lah, saya tetep mau nulis (lagi). *Sambil ngelus-ngelus blog nan buruk rupa yang sekian lama terbengkalai.

Begini...
Kamu pernah enggak, saking menyatunya sama sesuatu hal, kamu jadi nggak bisa ngerasain kalau hal yang deket sama kamu itu merupakan suatu hal yang emejing cetar membahana? Yang kamu rasain cuma "Apaan sih? Biasa aja kok." Padahal orang-orang di sekitar kamu ngiler-ngiler mendambakan posisi kaya kamu. Dan setelah kamu sadar, kamu bikin status kaya gini...

Ini yang kadang kita lupa (atau mungkin cuma saya --'). Lupa bersyukur karena kita lahir dan besar di tempat yang kata orang-orang "Epic abis!". Iya, bersyukur...
Mau muncak gunung-gunungnya, tinggal ngangkat kaki.
Mau tidur, gak perlu homestay-homestay-an.
Mau nikmati wisatanya, tinggal "nyong wong Dieng, Pakkk!" tiket gratis.
Mau makan karika, tinggal metik.
See! betapa syahdunyaaa. Orang-orang di luar sana aja ngiri sama kita *hooh pa?


*Tiba-tiba nyong merenung tentang iki.

Udah gitu, itu status pake nandain orang sak-RT pula. Semacam modus mencari teman yang mungkin sama 'lupa'nya kaya saya.

Dan kenapa semua ini bisa terjadi?

Suer, (saya miris mau nulisnya)... ini karena efek novel 5 cm. (--') *SOUNDS ALAY BANGET GAK SIH SAYAAAAAH???
Novel yang sukses bikin saya nangis sambil ketawa. Novel yang sukses bikin saya yang emang dasarnya pemimpi menjadi semakin gudrah-gudrah mimpinya (sambil ngangkat-ngangkat jari 5 cm di depan kening). Novel yang dengan syahdunya mengantarkan jari saya ngulik-ngulik pesbuk dan nemu grup 'Sahabat 5 cm.', di mana saya ketemu sama orang-orang kece di sana. Novel yang entah kenapa... ah sudahlah. Terlalu banyak kata 'sukses' malah bikin saya semakin lapar... Iya di kecamatan saya ada warung makan enakkkk, judul warungnya, "SUKSES". *penting

Lalu kenapa saya nggak sebut filmya? Nggak kenapa-kenapa sih...

Setelah tragedi itulah, saya jadi iksaitid (piye sih nulis inggrise?) bingits sama hal-hal yang berbau gunung. Bukan gunung yang itu tapiiiiii *tampar manusia-manusia berwajah mesum.
Mulai dari searching cerita-cerita yang gunung abissss, ikut grup-grup para pendaki, donlod-donlod video perjalanan mendaki gunung, terus ikut bisnis jualan aksesoris... nyambung kah? nyambung lah, pan bisnisnya bisa dapet duit terus duitnya bisa ditabung terus tabungannya kalau udah banyak bisa buat ongkos ngedaki gunung... Sekali lagi bukan gunung yang ituuuuuuuuuuuuuu *tamparrrr lagi. Gunung yang itu mah cuma bisa didaki dengan 'Qobiltu Nikahaha...' *eh

Dan yang sungguh mengiris hati adalah... you know what?!
Saya ini orang gunung. Orang gunung asli, men! ASLI!
Tapi saya lupa kalau saya orang gunung. Saya lupa cara menikmati keromantisan alam gunung. Saya lupa kalau saya emang pelupa. Ya pikir aja sih, sejak jebrol saya udah di gunung. SD lari-larian aja di gunung. Makan bakso di gunung. Nonton tivi di gunung. Naik motor mbonceng Pae, di gunung. Tidur di gunung. Semuanyaaaaaa di gunung. Wajar toh kalau saya kebas sama hal-hal berbau gunung.

Kayaknya pikiran saya terlalu cetek kalau cuma bisa beranggapan begitu ya...
Apa emang pikiran saya cetek? entahlah..
Yang pasti saat ini adalah. Saya lupa bersyukur bahwa saya dilahirkan di tempat yang epic sekali. Suer epic! kalau nggak percaya search aja di gugel 'Dieng' pasti keluar apapun tentang keindahannya. *sengaja nggak ngasih link atau gambar-gambar epic biar yang mau tau Dieng itu kaya apa nge-search sendiri (baca: males). Mandiri donggg...

Lalu mulai saat ini... saya akan mencoba menikmati Dieng dengan semestinya.

#Syukur #Alam #Dieng

_From Napis With Peace.



Minggu, 10 November 2013

Bantai Jerawat Dengan Madu



Kecil. Merah. Beraninya keroyokan! Apalagi namanya kalau bukan jerawat. Hooh, bintil-bintil kemerahan nan menyebalkan satu ini jadi momok mengerikan buat seluruh umat manusia, eh tapi nggak tau ding kalau ada orang di belahan bumi sana yang mungkin justru mengadakan syukuran  karena jerawatan. Yang pasti, bagi saya jerawatan itu sangat memprovokasi untuk sekedar membenturkan wajah ke cermin. Sekali ngaca, jerawat melambai-lambai. Udah gitu, di jalan ditunjuk-tunjuk sama anak kecil, “Ihhh... mbaknyajerawatannn... mbaknya jerawataaaaaaan!” Suer, pingin nangis.
Jadilah saya melakukan berbagai usaha penyembuhan. Mulai dari yang rada menguras kantong. Iya... apalagi kalau bukan facial dan beli obat ke dokter kulit yang ternyata malah bikin ketagihan. Sembuhnya Cuma pas pakai itu obat. Obat habis, jerawat nongol lagi. Kesimpulannya, cara ini cuma ampuh untuk menambah kekayaan uang si dokter. Saya? Jebol dompet buat beli obat tanpa hasil memuaskan.
Pernah juga pakai cara praktis nan ekonomis, yaitu dengan lidah buaya campur tepung (tepung apa ya? Lupa... udah tiga tahun yang lalu soalnya. Pokoknya mah tepung), hasilnya? tak terdeteksi. Minum obat kembang bulan: hasil? Sama... nggak ngaruh. Makan tape sampai cuci muka pakai air beras (KERE MAKSIMAL). Ya, Allah... Begitu ampuhnya jerawat di muka saya kah? Entahlah yang pasti sekarang saya sedang melakukan treatment pembantai jerawat secara masal dengan cara baru:
Tadaaa... Pakai madu. Iya... madu. Menurut kabar-kabur dan hasil searching di internet, madu memang cukup mutakhir untuk menyembuhkan dan menghilangkan noda hitam bekas jerawat. Hasilnya? ya lumayan lah, jerawat jadi tak nampak dalam radius lima meter.. he
Dan inilah langkah-langkah menggunakan madu untuk bantai jerawattttt:
Yang harus disediakan:
1. Uang. Iya, Cek dompet kamu. Nggak lucu dong, saking obsesinya pingin nyoba treatment ini, beli madu tapi gak inget kalau gak punya duit. (guyonane garinggggg Pis, suerrrr).
2. Sediakan lilin plus korek. Oke, bukan buat ngipri. Ini cuma satu trik hemat dan praktis daripada menggunakan oven.
3. Sediakan satu sendok makan. Satu handuk kecil. Tisu. Air panas. Dan Pop Mie. Emmm... Baiklah, poin terakhir boleh diabaikan.
4. Madu (katanya sih) kalau bisa madu murni. Jangan sebangsa Madu Rasa yang kamu pakai.

Langkah-langkah pembantaian:
1. Cuci muka anda dengan air hangat.
2. Hidupkan lilin.
Oke sudah?
3. Tuangkan madu ke dalam sendok lalu bakar di atas api. Kalau yang punya oven bolehlah dipakai.
4.  Tunggu sampai anget-anget kuku gimanaaa gitchu.
5. Angkat dan ratakan ke bagian wajah yang terserang jerawat.
6. Tunggu 15-30 menit. Disarankan tidak terlalu lama apalagi bagi kamu yang melakukan treatment ini di luar ruangan. Nggak mau toh wajah anda bukannnya mulus justru nambah bentol gede hasil ciuman tawon. Tapi sejauh ini belum ada sih kasus semacam ini, mau coba???
6. Terakhir bersihkan bekas madu dengan handuk kecil yang telah dicelupkan ke dalam air hangat dahulu. Lalu basuh... basuh... basuh sampai bersih.

Lalu tisu buat apaan? Baiklah, sedikit tidak penting tapi akan  saya jelaskan. Ketika madu sudah kita ratakan di wajah, kadang-kadang ada yang meler-meler di wajah. Rasanya bo? Geli-geli gatel. Nggak enak pokoknya, jadi bisa pakai tisu buat ngelap yang meler-meler. Tuh kan, nggak penting.

Ya sudah, sekian dulu tips-tips cantik dari saya. Salam cantik. Salam damai. Selamat mencoba :)

*Terimakasih tak terhingga untuk pemberi kabar-kabur dan google atas info pembantai jerawatnya. Maknyusss tenan.

_Napis with Peace_

Minggu, 14 Juli 2013

Bikin Blog Baru Lagi

Ini bukan soal kurang kerjaan. Bukan juga soal  kebanyakan waktu luang. Ini cuma karena efek diri ini yang, Oh My God... pelupa. Lupa alamat e-mail... sering, lupa pasword... apalagi.

Buat kamu-kamu yang punya hobi lupa. Tenang saja, kita cuma harus tarik nafas dalam-dalam... keluarkan perlahan saat itu juga, jangan taun depan. Itu guyonan udah nggak lucu soalnya.. Setelah itu, kamu cuma perlu jedotin kepala kamu ke kue tart.

_Salam Damai Sedamai Damainya Napisss_

Minggu, 07 Juli 2013

Sedikit Bersajak Saja

Tentang Mimpi


Pernah ku...berkata pada semesta
Tentang cinta
Tentang cita
Sekedar menyuarakan asa saja
Bahwa cintaku yang seperti dia
Mengerti diri ini apa adanya
Dan citaku... seperti apa...
Mengelana kaki... menikmati semesta... bersama cinta...
Itu saja

Nafis with Peace
06.07.2013